Menyelisihi Ahli Kitab Dalam Menata Rambut
Dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam dahulunya menyisir rambut beliau ke arah
depan hingga kening sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambutnya ke
bagian kiri-kanan kepala mereka, sementara itu Ahlul Kitab menyisir
rambut mereka ke kening. Rupanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
lebih suka bila bersesuaian dengan apa yang dilakukan oleh Ahlul Kitab
dalam perkara yang tidak ada perintahnya. Namun kemudian hari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam menyisiri rambutnya ke arah kanan-kiri
kepala beliau".(HR. Bukhari)
Menyelisi Kaum Musrik Dalam Haji
'Umar radliallahu 'anhu berkata;"Sesungguhnya
orang-orang musyrik (ketika berhaji) tidak bertolak dari Jam'un hingga
matahari terbit dari balik gunung Tsabir. Kemudian Nabi shallallahu
'alaihi wasallam menyelisih mereka dengan bertolak sebelum matahari
terbit".(HR. Bukhari)
Puasa Asy Syuro
Dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma ia berkata;"Setibanya
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di Madinah, beliau mendapatkan
orang-orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura. Mereka ditanya tentang
masalah itu, lalu mereka menjawab; "Ini adalah hari di saat Allah
memenangkan Musa 'alaihis salam dan Bani Isra'il atas Fir'aun. Dan kami
berpuasa untuk mengagungkan hal itu." Maka Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Kami lebih berhak kepada Musa daripada
kalian." Kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari
'Assyura`.(HR. Bukhari)
Pemindahan Arah Kiblat
Dari Al Barro` bin 'Azib bahwaNabi
shallallahu 'alaihi wasallam saat pertama kali datang di Madinah,
singgah pada kakek-kakeknya ('Azib) atau paman-pamannya dari Kaum
Anshar, dan saat itu Beliau shallallahu 'alaihi wasallam shalat
menghadap Baitul Maqdis selama enam belas bulan atau tujuh belas bulan,
dan Beliau sangat senang sekali kalau shalat menghadap Baitullah
(Ka'bah). Shalat yang dilakukan Beliau shallallahu 'alaihi wasallam
pertama kali (menghadap Ka'bah) itu adalah shalat 'ashar dan orang-orang
juga ikut shalat bersama Beliau. Pada suatu hari sahabat yang ikut
shalat bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pergi melewati
orang-orang di Masjid lain saat mereka sedang ruku', maka dia berkata:
"Aku bersaksi kepada Allah bahwa aku ikut shalat bersama Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam menghadap Makkah, maka orang-orang yang
sedang (ruku') tersebut berputar menghadap Baitullah dan orang-orang
Yahudi dan Ahlul Kitab menjadi heran, sebab sebelumnya Nabi shallallahu
'alaihi wasallam shalat menghadap Baitul Maqdis. Ketika melihat Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menghadapkan wajahnya ke Baitullah mereka
mengingkari hal ini. Berkata Zuhair Telah menceritakan kepada kami Abu
Ishaq dari Al Barro`, dalam haditsnya ini menerangkan tentang (hukum)
seseorang yang meninggal dunia pada saat arah qiblat belum dialihkan dan
juga banyak orang-orang yang terbunuh pada masa itu?, kami tidak tahu
apa yang harus kami sikapi tentang mereka hingga akhirnya Allah Ta'ala
menurunkan firman-Nya: "Dan Allah tidaklah akan menyia-nyiakan iman
kalian". (QS. Al Baqoroh: 143) (HR. Bukhari)
Cemoohan Yahudi Mengenai Pemindahan Arah Kiblat
Lalu
mereka mengatakan kepadanya, bahwa para rasul sebelum dia semua pergi
ke Bait'l-Maqdis dan memang di sana tempat tinggal mereka. Jika dia juga
memang benar-benar seorang rasul, iapun akan berbuat seperti mereka,
dan kota Medinah ini akan dianggapnya sebagai kota perantara dalam
hijrahnya dulu antara Mekah dengan al-Masjid'l-Aqsha. Akan tetapi, apa
yang sudah mereka kemukakan kepadanya itu bagi Muhammad tidak perlu
lama-lama berpikir untuk mengetahui, bahwa mereka sedang melakukan
tipu-muslihat terhadap dirinya. Pada saat itu Tuhan mewahyukan
kepadanya, menjelang tujuhbelas bulan ia tinggal di Medinah, untuk
menghadapkan kiblatnya ke al-Masjid'l-Haram, Rumah Ibrahim dan Ismail:
"Kami
sebenarnya melihat wajahmu yang menengadah ke langit itu. Akan Kami
hadapkan mukamu ke arah kiblat yang kausukai. Hadapkan mukamu ke arah
al-Masjid'l-Haram. Dimana saja kau berada hadapkanlah mukamu kearah
itu." (Qur'an, 2: 142-143)
Orang-orang
Yahudi ternyata menyesalkan kejadian itu. Sekali lagi mereka berusaha
memperdayakannya, dengan mengatakan, bahwa mereka akan mau jadi
pengikutnya kalau ia kembali ke kiblat semula. Di sini firman Tuhan
menyebutkan:
"Dari
orang-orang yang masih bodoh akan mengatakan: Apakah yang menyebabkan
mereka berpaling dari kiblat yang dulu. Katakanlah: Timur dan Barat itu
kepunyaan Allah. DipimpinNya siapa yang disukaiNya ke jalan yang lurus.
Begitu juga Kami jadikan kamu suatu umat pertengahan, supaya kamu
menjadi saksi kepada umat manusia, dan Rasulpun menjadi saksi kepadamu.
Dan Kami jadikan kiblat yang biasa kaupergunakan itu, hanyalah untuk
menguji siapa pula yang berbalik belakang. Dan itu memang berat, kecuali
bagi mereka yang telah mendapat pimpinan Tuhan." (Qur'an, 2: 144)
(Siroh Muhammad Husain Haikal)
Orang Yahudi Bertanya Tentang Ruh
Telah
menceritakan kepada kami Qais bin Hafsh berkata, telah menceritakan
kepada kami 'Abdul Wahid berkata, telah menceritakan kepada kami Al
A'masy Sulaiman bin Mihran dari Ibrahim dari 'Alqamah dari 'Abdullah
berkata,"Ketika
aku berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di sekitar
pinggiran Kota Madinah, saat itu beliau membawa tongkat dari batang
pohon kurma. Beliau lalu melewati sekumpulan orang Yahudi, maka sesama
mereka saling berkata, "Tanyakanlah kepadanya tentang ruh!" Sebagian
yang lain berkata, "Janganlah kalian bicara dengannya hingga ia akan
mengatakan sesuatu yang kalian tidak menyukainya." Lalu sebagian yang
lain berkata, "Sungguh, kami benar-benar akan bertanya kepadanya." Maka
berdirilah seorang laki-laki dari mereka seraya bertanya, "Wahai Abul
Qasim, ruh itu apa?" Beliau diam. Maka aku pun bergumam, "Sesungguhnya
beliau sedang menerima wahyu." Ketika orang itu berpaling, beliau pun
membaca: '(Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: "Ruh
itu termasuk urusan Rabbku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan
melainkan sedikit) ' (Qs. Al Israa`: 85). Al A'masy berkata, "Seperti
inilah dalam qira`ah kami." (HR. Bukhari)
Pesan Rasulullah Kepada Utusan Ke Ahli Kitab
Dari
Ibnu Abbas, dia berkata, “Rasulullah bersabda kepada Muadz tatkala di
utus ke Yaman,”Engkau akan mendatangi suatu kaum yang statusnya Ahli
Kitab. Jika engkau sudah mendatangi mereka, maka serulah mereka agar
bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah rasul
Allah. Jika merka taat kepadamu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa
Allah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu setiap hari dan malam.
Jika mereka taat kepadamu dalam masalah ini, maka hindarilah harta yang
dimuliakan. Taktlah kamu terhadap doa orang yang dizhalimi,karena tidak
ada hijab antara dirinya dan Allah.” (HR. Bukhari)
Seandainya Masih Hidup, Musa ikut Aku
Dari
Jabir bahwa Umar bin Khattab pernah menemui Nabi sambil membawa sebuah
kitab dari kalangan Ahli Kitab, seraya berkata,”Wahai Rasulullah, aku
mendapat sebuah kitab yang bagus dari sebagian Al Kitab.” Ternyata
beliau tampak marah, seraya bersabda,”Apakah kalian tidak bingung
tentang isinya wahai Ibnu Khattab? Demi yang diriku ada di tangan-Nya,
aku telah membawakan bagi kalian sesuatu yang putih dan suci. Janganlah
kalian menanyakan tentang sesuatupun kepada mereka (Ahli Kitab), lalu
mereka menyampaikan yang benar kepada kalian namun kemudian kalian
mendustakannya, atau mereka menyampaikan yang batil kepada kalian lalu
kalian membenarkannya. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, andaikan Musa
masih hidup, maka tidak ada pilihan lain baginya kecuali mengikuti
aku.” (HR. Ibnu Abdil Bar)
Ultimatum Rasul pada Bani Nadhir
Ibnu
Sa‘ad meriwayatkan bahwa Rasulullah saw keluar pada hari Sabtu, lalu
shalat di masjid Quba bersama beberapa orang sahabatnya dari kaum Anshar
dan Muhajirin. Kemudian Rasulullah saw mendatangi orang-orang Yahudi
Bani Nadlir untuk minta bantuan mereka membayar diyat (tebusan ganti
rugi) kepada keluarga dua orang dari Bani Kilab yang terbunuh secara
tidak sengaja oleh Amir bin Umaiyyah Adl-Dhamri. Kedua orang yang
terbunuh itu sebelumnya telah mendapatkan jaminan perlindungan dari
Rasulullah saw. Dalam pada itu antara Bani Nadlir dan Bani Amir terjalin
ikatan persahabatan (persekutuan) sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu
Ishaq dan lainnya.
Orang-orang
Yahudi bani Nadlir itu menjawab :“Kami akan melakukan apa yang engkau
inginkan, wahai Abul Qasim.“ Kemudian sebagian orang Yahudi itu berbisik
kepada yang lain merencanakan pengkhianatan. Amir bin Jihasy
an-Nadhary berkata :“Aku akan naik ke bagian atas rumah, kemudian
menjatuhkan batu besar kepadanya.“ Waktu itu Rasulullah saw sedang
berdiri di samping salah satu rumah mereka.
Ibnu
Sa‘ad selanjutnya menambahkan bahwa Salam bin Masykan (salah seorang
bani Nadlir) berkata kepada mereka :“Janganlah kalian melakukannya! Demi
Allah, dia (Muhammad) pasti akan diberitahu tentang apa yang kalian
rencanakan. Sesungguhnya perbuatan itu merupakan pelanggaran terhadap
perjanjian antara kita dendan dia.“
Setelah
mendapat kabar tentang rencana pengkhianatan itu, Rasulullah saw dengan
cepat bergerak , seolah-olah ada suatu keperluan, menuju ke Madinah
dengan diikuti oleh para sahabatnya. Para sahabatnya berkata :“Engkau
berangkat sedangkan kami tidak menyadari.“ Nabi saw menjawab
:“Orang-orang Yahudi itu merencanakan pengkhianatan, lalu Allah
mengabarkan hal itu kepadaku maka aku segera berangkat.“
Kemudian
Rasulullah saw mengutus seorang utusan kepada mereka untuk menyampaikan
pesan :“Keluarlah kalian dari negeriku karena kalian telah merencanakan
pengkhiantan. Aku beri tempo 10 hari. Kalau setelah itu masih ada yang
terlihat, akan kupenggal batang lehernya.“
Orang-orang
Yahudi itu pun mulai bersiap-siap keluar, tetapi Abdullah bin Ubay bin
Salul mengirim seorang utusan untuk menyampaikan pesan kepada mereka
:“Janganlah kalian meninggalkan rumah-rumah kalian, tinggallahdi benteng
kalian, karena kami bersama dua ribu orang akan membela kalian.“
Kemudian orang-orang Yahudi itu membatalkan rencana keluar mereka dan
bertekad untuk bertahan di benteng-benteng mereka. Lalu Rasulullah saw
pun memerintahkan para sahabatnya untuk bersiap-siap memerangi mereka.
Akhirnya
Rasulullah saw bergerak mendatangi mereka sementara itu mereka bertahan
di benteng-benteng mereka dengan menggunakan senjata panah dan batu.
Dalam pada itu Abdullah bin Ubay ternyata mengkhianati mereka. Lalu
Rasulullah saw mengepung mereka dan memerintahkan supaya semua ladang
kurma milik mereka dibabat habis. Sehingga mereka menggugat :“Hai
Muhammad kamu dulu melarang kerusakan dan mencela orang yang
melakukannya. Kenapa sekarang kamu membabat dan membakar habis landang
kurma?“ Maka Allah swt pun menurunkan firman-Nya :
„Apa
saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau
yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya maka (semua itu)
adalah atas ijin Allah swt. Dan Dia hendak membeirkan kehinaan kepada
orang-orang fasiq.“ QS al-Hasyr : 5
Setelah itu mereka menyerah kepada Rasulullah saw dan bersedia
meninggalkan kota Madinah sebagaimana yang diinginkan beliau. Tetapi
Rasulullah saw menjawab :“Sekarang aku tidak menerimanya kecuali jika
kalian keluar dengan darah-darah kalian saja. Kalian boleh membawa harta
yang dapat dibawa oleh unta, kecuali senjata.“ Akhirnya mereka menerima
keputusan ini dan keluar dengan harta yang dapat diangkut oleh unta
mereka. (Siroh Al Buthy)
Muhabalah Dengan Utusan Nasrani
Kelompok
Musyrikin kebanyakan mereka masuk Islam. Utusan-utuan mereka tidaklah
kembali ke perkampungan mereka kecuali dengan membawa cahaya keimanan
dan tauhid kepada kaumnya. Sedangkan para utusan ahli Kitab, kebanyakan
mereka tetap memeluk agama mereka, Yahudi dan Nasrani.
Utusan yang mewakili orang-orang Nasrani Najran terdiri dari 60 orang.
Mereka berdiskusi bersama Rasulullah saw selama beberapa hari tentang
Isa as dan keesaan Allah.
Sikap terakhir yang dilakukan oleh Rasulullah saw kepada ahli Kitab ini ialah membacakan ayat al-Quran di bawah ini :
„Sesungguhnya
misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adlaah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya
:Jadilah (seorang manusia) maka jadilah ia. (Apa yang telah Kami
ceritakan itu) , itualah yang benar, yang datang dari Rabb-mu, karena
itu janganlah kamu termasuk orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu
tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu) maka
katakanlah (kepadanya) : „Marilah kita memanggil anak-anak kami dan
anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan
diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita
minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.“ QS
Ali Imran : 59-61
Setelah
mereka tidak mau mengakui kebenaran akhirnya Rasulullah saw mengajak
mereka bermubahalah (saling bersumpah bahwa Allah akan menimpakan
laknat-Nya atas pihak yang berdusta) sebagaimana yang diperintahkan
Allah di dalam ayat-Nya terebut. Rasulullah saw berangkat untuk
bermubahalah dengan membawa Hasan dan Husain digendongnya serta Fatimah
ra di belakangnya.
Tetapi ketua rombongan itu, Syaurahbil bin Wada‘ah, menolak mubahalah
dan memperingatkan teman-temannya akan akibat burujk dari tindakan ini.
Akhirnya mereka datang menemui Rasulullahs aw memitna keputusan dari
beliau selain dari pilihan masuk Islam dan mubahalah. Kemudian
Rasulullah saw memberikan perjanjian damai dengan syarat mereka harus
membayar jizsyah. Rasulullah saw memberikan jaminan keamanan kepada
mereka selama mereka membayar jizyah ynag telah disepakati tidak akan
membatalkan perjanjian ini, dan tidak akan mengusik kebebasan beragama
mereka selama mereka tidak melakukan pengkhianatan atau memakan riba. (Siroh Al Buthy)
Ejekan Bani Qainuqa
Ibnu
Ishaq berkata : Pada suatu kesempatan Rasulullah saw mengumpulkan Banu
Qunaiqa‘ di pasar Qunaiqa‘ kemudian bersabda :“Wahai kaum Yahudi,
takutlah kalian kepada murka Allah yang pernah ditimpahkan-Nya kepada
kaum Quraisy.Masuklah kalian ke dalam Islam karena sesungguhnya kalian
telah mengetahui bahwa aku adalah Nabi yang diutus (Allah), sebagaimana
kalian dapati di dalam Kitab kalian dan Janji Allah kepada kalian!“
Jawab mereka :“Wahai Muhammad, apakah kamu mengira kami ini seperti
kaummu? Janganlah kamu membanggakan kemenangan terhadap suatu kaum yang
tidak mengerti ilmu peperangan. Demi Allah, seandainya kami yang kamu
dapati dalam peperangan , niscaya kamu akan mengetahui siapa sebenarnya
kami ini!“.(Siroh Al Buthy)
Keislaman Abdullah bin Salam
Menyangkut
hal tersebut, saya kembali menemui Muhammad dan berkata "Wahai utusan
Tuhan! Orang-orang Yahudi itu cenderung suka mencela orang dan berkata
dusta, saya minta kamu mengundang orang paling terpandang dan
berpengaruh di antara mereka supaya menemui kamu. (Selama pertemuan itu
nanti) Mohon kamu sembunyikan saya disalah satu ruangan rumahmu, lalu
tanyakan pada mereka tentang bagaimana status saya selama ini di antara
mereka (orang Yahudi) sebelum mereka tahu bahwa saya sudah masuk
Islam...lalu coba ajak mereka masuk Islam. Kalau mereka tahu saya sudah
masuk Islam niscaya mereka akan mencari-cari kesalahan saya, menuduh
bahwa saya sepenuhnya salah dan menjatuhkan nama baik saya.
Muhammad
menyembunyikan dia di salah satu ruangan rumahnya lalu mengundang orang
Yahudi terpandang dan berpengaruh ke rumahnya. Dia memperkenalkan Islam
pada mereka dan mendesak mereka supaya memiliki keyakinan dalam nama
Tuhan... Mereka mulai berdebat dan berargumen tentang hal 'kebenaran'..... Ketika dia menyadari bahwa mereka tidak memiliki kecenderungan pada Islam. Dia memberi pertanyaan pada mereka:
"Bagaimanakah status Al Husayn ibn Sailam di antara kalian (orang-orang Yahudi)?"
"Dia adalah sayyid(pemimpin) kami dan putra dari sayyidkami, Dia adalah rabbi dan alim ulama kami, putranya rabbikami yang alim"
"Kalau seandainya kalian mengetahui dia telah masuk Islam, Apakah kalian semua mau masuk Islam juga?" tanya Muhammad
"Semoga
tidak terjadi! Dia tidak mungkin masuk Islam, Semoga Tuhan
melindunginya dari masuk Islam" jawab mereka terkejut. Saat itu juga
saya keluar menghampiri mereka dengan sedekat-dekatnya dan mengatakan:
"Wahai
orang-orang Yahudi! Sadarilah akan adanya Tuhan dan terimalah segala
risalah yang menyertai Muhammad. Demi Tuhan, kalian semua pasti
mengetahui bahwa dia itu utusan Tuhan dan kalian bisa menemukan tanda
kenabian pada dirinya, tersebutlah namanya dan sifat-sifatnya dalam
kitab Taurat kalian. Demi diri saya sendiri, saya bersaksi bahwa dia
utusan Tuhan. Saya memiliki keyakinan tentang dia dan percaya..dia orang
yang benar. Saya mengenal dia...
"Kamu
pendusta!" teriak mereka, "Demi Tuhan, kamu memang mahluk tercela dan
tak berarti apa-apa, seburuk-buruk manusia dan tak berguna"...Dan mereka
terus mencela dengan kata-kata yang merendahkan.
Al-Qur'an mengabadikan dirinya dalam suatu ayat:
"Katakanlah,"Terangkanlah
kepadaku, bagaimana pendapatmu jika sebenarnya (Al-Qur'an) ini datang
dari Allah, dan kamu mengingkarinya, padahal ada seorang saksi dari Bani
Israil yang mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang disebut
dalam) Al-Qur'an lalu dia beriman; kamu menyombongkan diri. Sungguh
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim."(46-10)(Sirah Shafiyyurahman Al Mubarakfury)
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam Mengajak Orang-orang Yahudi Masuk Islam di Pasar Bani Qainuqa'
Ibnu
Ishaq berkata, "Di sela-sela perang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa
Sallam di atas, terjadilah kasus Bani Qainuqa'. Kasus Bani Qainuqa'
ialah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumpulkan orang-orang
Yahudi di Pasar Bani Qainuqa' kemudian bersabda kepada mereka, 'Hai
seluruh orang-orang Yahudi, takutlah allah menurunkan hukuman seperti
yang Dia turunkan kepada orang-orang Quraisy dan masuk Islamlah kalian,
karena kalian telah mengetahui bahwa aku Nabi yang diutus. Ini dan
perjanjian Allah kepada kalian telah kalian dapati di kitab kalian.'
Orang-orang Yahudi berkata, 'Hai Muhammad, apakah engkau kira kami lemah
hingga engkau dapat mengalahkan kami dengan mudah? Engkau jangan sok
kuat! Engkau hanya menghadapi kaum yang tidak mempunyai pengetahuan
tentang perang sedikit pun. Oleh karena itu, tidak heran kalau engkau
menang atas mereka. Demi Allah, jika kami memerangimu, engkau pasti tahu
bahwa kami manusia terkuat'."
Ibnu Ishaq berkata bahwa mantan budak keluarga Bani Yazid bin Tsabit berkata kepadaku dari Said bin Jubair atau dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata, "Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang orang-orang Yahudi tersebut,
Ibnu Ishaq berkata bahwa mantan budak keluarga Bani Yazid bin Tsabit berkata kepadaku dari Said bin Jubair atau dari Ikrimah dari Ibnu Abbas yang berkata, "Kemudian Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang orang-orang Yahudi tersebut,
'Katakanlah
kepada orang-orang kafir, 'Kalian pasti akan dikalahkan (di dunia ini)
dan akan digiring ke neraka Jahannam dan itulah tempat.yang paling
buruk.' Sesungguhnya telah ada tanda bagi kalian pada dua golongan yang
bertemu (bertempur); segolongan berperang di jalan Allah dan
(segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat
(seakan-akan) orang-orang Muslim dua kali jumlah mereka. Allah
menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya; sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang
mempunyai mata hati'." (Ali-Imran: 12-14)
Jawaban Yahudi Qainuqa' ini merupakan pernyataan perang secara terang-terangan. Namun Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallammasih
menahan marahnya. Kaum muslimin juga menahan kesabaran mereka untuk
waktu yang cukup lama. Sehingga bani Qainuqa' bertambah jahat dan kurang
ajar. (Sirah Shafiyyurahman Al Mubarakfury)
Tantangan orang Yahudi
Ketika
itulah kaum Quraisy memutuskan untuk menghubungi orang-orang Yahudi
sambil memastikan kelanjutan dari perihal Muhammad Shallallâhu ‘alaihi
wasallam. Maka mereka tunjuklah an-Nadlar bin al-Hârits untuk pergi
menemui orang-orang Yahudi di Madinah bersama dua orang lainnya. Ketika
mereka tiba di tempat mereka, para pemuka agama Yahudi (Ahbâr) berkata
kepada mereka:
“Tanyakan
kepadanya (Muhammad-red) tiga hal, jika dia memberitahukannya maka
dialah Nabi yang diutus itu, dan jika tidak maka dia hanyalah orang yang
ngelantur bicaranya. Yaitu, tanyakan kepadanya tentang sekolompok
pemuda yang sudah meninggal pada masa lampau pertama, bagaimana kisah
mereka? Karena sesungguhnya cerita tentang mereka amatlah mengagumkan.
Juga tanyakan kepadanya tentang seorang laki-laki pengelana yang
menjelajahi dunia hingga ke belahan timur bumi dan belahan baratnya,
bagaimana kisahnya?. Terakhir, tanyakan kepadanya tentang apa itu ruh?”.
Setibanya
di Mekkah, an-Nadlar bin al-Hârits berkata: “kami datang kepada kalian
berkat apa yang terjadi antara kami dan Muhammad”. Lalu dia
memberitahukan mereka perihal apa yang dikatakan oleh orang-orang
Yahudi. Setelah itu, orang-orang Quraisy bertanya kepada Rasulullah
tentang tiga hal tersebut, maka setelah beberapa hari turunlah surat
al-Kahfi yang didalamnya terdapat kisah sekelompok pemuda tersebut,
yakni Ashhâbul Kahfi dan kisah seorang laki-laki pengelana, yakni Dzul
Qarnain. Demikian pula, turunlah jawaban tentang ruh dalam surat
al-Isra’. Ketika itu, jelaslah bagi kaum Quraisy bahwa beliau
Shallallâhu ‘alaihi wasallam berada dalam kebenaran namun orang-orang
yang zhalim tidak berkenan selain terhadap kekufuran. (Sirah Al
Mubarakfury)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar